Tafta Zani “Biar Aku Saja”

Catatan Iffan Gondrong
Tafta Zani

Tafta Zani, memang kaga ada matinye. Bagi masyarakat dunia maya, celoteh dan kelakarnya di media sosial kadang membuat bibir dipaksa untuk tersenyum bahkan tertawa.

Ya, pria yang biasa disapa Buya ini kerap menulis status yang out of the box. Dia menulis celotehan yang tidak biasa, bahkan cenderung aneh. Status di time line medsosnya dipenuhi candaan yang tentu saja tidak asal bunyi. Tidak pula menghakimi atau menyudutkan pihak lain.

Lebih seringnya, Tafta Zani malah menyudutkan dirinya sendiri, meskipun tentu dengan bahasa ungkap yang jenaka dan mengundang tawa. Seperti kelakar di bawah ini. Judulnya “Biar Aku Saja”. Bahasa ungkap Dilan dalam Film Dilan 1990 yang fenomenal tentu saja.

Saya mau berbagi sedikit info kepada Adinda.

Begini. Beberapa hari yang lalu saya dapat semacam “Maklumat” gitu dari KPU Banten. Isinya berupa seruan agar semua Calon (DPD, DPR) mencantumkan tagline “Anti Politik Uang, Banten Bisa!” pada semua alat peraga yang akan dipasang.

Maklumat ini sebenernya telat turun karena waktu resmi kampanye sudah dimulai sejak tanggal 23 September. Tapi substansinya uatuh setuju jasa Ka Haji, ih. Satu, politik-uang itu haram, kedua, ya… karena haram itu tadi (cicing dararia nyah).

Semua kita berharap larangan politik uang (dalam segala coraknya) ini benar-benar ditegakkan, mengingat daya rusaknya dahsyat betul.

Politik uang melukiskan dua keburukan sekaligus. Pertama, ia jenis penghinaan paling telanjang terhadap rakyat, karena menganggap hak individual mereka bisa dibeli. Kedua, menghina dirinya sendiri karena merasa tak punya cara lain mendapatkan dukungan warga kecuali degan membelinya.

Kerusakan politik bermula dan beranak pinak di antaranya karena perbuatan itu. Mengerikan bukan, Adinda..?

Masih berkaitan dengan soal “uang” ini. Mendengar saya nyalon DPD, seorang kawan mengingatkan saya. Katanya berat, butuh uang tak sedikit, sambil menyebut 1-2 calon lain yang dianggap paling siap.

Kawan: Denger-denger Anda nyalon DPD?
Saya : Betul
Kawan: Emang punya duit?
Saya: Gak
Kawan: Kok bisa?
Saya: Bisa. Gak masuk dalam syarat administratif waktu daftar
Kawan: Tapi berat, Taf…
Saya: Ya, emang. Makanya biar aku aja…

Tafta Zani adalah pria kelahiran Desa Ketapang, Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang.  Dia merupakan alumnus Pesantren Daar El-Qolam (Gintung) dan IAIN Jakarta. Sejatinya, Tafta Zani adalah seorang pemikir. Maklum, pria yang biasa disapa Buya itu adalah staf senior di Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC). Di masa mudanya dia pernah juga bekerja di LP3ES. (*)

Categories
Features

Trusted News Site
No Comment

Leave a Reply

RELATED BY

%d blogger menyukai ini: