Prank KCS

Ibarat boomerang, program populis Kartu Cilegon Sejahtera (KCS) yang dijanjikan Helldy Agustian-Sanuji Pentamarta jauh sebelum terpilih sebagai kepala daerah kini berbalik menjadi senjata makan tuan....

Warga penerima KCS kecewa sebab program yang dulu dijanjikan sangat manis itu justru sebaliknya. Mereka harus menelan pil pahit karena program dengan judul besarnya adalah bantuan modal Rp25 juta itu ternyata bentuknya pinjaman modal. Harapan warga terutama penerima KCS pada saat pilkada beberapa waktu lalu pun punah.

Sejatinya, program KCS yang belakangan menjadi sorotan publik Cilegon itu tidak akan ramai dibicarakan, jika pada saat Helldy-Sanuji dan timnya membagi-bagikan kartu tersebut memberikan penjelasan dan pemahaman terkait manfaat KCS. Bukan sekedar menjanjikan hanya demi hasrat memenangi kontestasi Pilkada 2020.

Pasalnya lagi, program berbentuk bantuan modal usaha untuk UMKM di Cilegon ternyata bukan barang baru. Walikota sebelumnya Tb Iman Ariyadi yang kemudian dilanjutkan oleh Edi Ariadi, sudah ada program serupa yakni One District One Milion (Satu Kecamatan Satu Miliar). Karenanya, bantuan modal dari Program KSC itu pun akhirnya layu sebelum benar-benar terealisasikan dengan baik.

Berbeda dengan bantuan modal usaha KCS, bantuan modal One District One Milion lebih terstruktur, dimana Pemkot Cilegon membentuk Unit Pelayanan Teknis (UPT) Pemberdayaan Masyarakat. Warga yang akan menerima bantuan modal usaha kala itu, mendapatkan penjelasan di UPT-PEM.

Belum lagi soal konsep bantuan dalam kerangka postur APBD. Progam KCS yang sudah dilaunching beberapa waktu lalu itu ternyata masih debatable. Pihak legislatif tidak dilibatkan dalam proses penganggarannya, sementara hak budgeting ada di legislatif.

Berbagai argumen pun muncul ke permukaan. Anggota DPRD Cilegon pun bahkan angkat bicara meminta Walikota Cilegon menjelaskan dengan detail perihal Program KCS yang berbentuk pinjaman modal usaha itu. Namun hingga saat ini belum ada penjelasan dimaksud.

Bila melihat kejadian dan kekecawaan warga yang sempat terungkap, warga penerima KCS itu diibaratkan kena prank walikota. Mendapat janji manis seperti ini, kenyataannya tidak seperti yang dibayangkan.

Untuk diketahui, prank adalah perbuatan jahil, ngerjain orang dengan tujuan guyon buat asyik-asyikan. Nge-prank bisa dilakukan dengan text, chat atau video. Dalam teori, prank kerap disebut dengan practical jokes alias humor praktik. Alasannya, selalu ada aksi dalam prank.

Agar KCS tidak terus menerus menjadi polemik, maka ada benarnya pendapat para wakil rakyat agar Walikota dan/atau Wakil Walikota Cilegon menjelaskan secara detail ke publik. Proses pencairan yang saat ini masih menjadi persoalan di masyarakat juga perlu dijelaskan.

Menyampaikan yang sebenar-benarnya tentang keterbatasan APBD untuk menghandle program itu misalnya, lebih baik dari pada menutupinya dengan retorika yang makin lama makin jauh dari harapan. Sebab, kebohongan adalah biang dari perbuatan dosa.

Wallahu’alam

Categories
Editorial

Trusted News Site
No Comment

Leave a Reply

RELATED BY

  • Wakil Ketua DPRD Pandeglang, Asep Rafiudin Ariel

    Menunggu Sentuhan Bupati Irna Narulita

    Minggu (6/62021) pagi, belasan bahkan puluhan warga Kampung Baturjaya, Desa Ciinjuk, Kecamatan Cadasari, Pandeglang berkumpul di satu titik. Mereka akan segera melakukan aksi di lokasi. ...
  • Ilustrasi pendidikan

    Sengkarut Rencana Pendirian SMP

    Dunia pendidikan penting bagi tumbuh kembangnya generasi bangsa. Upaya meningkatkan strata pendidikan dengan membangun sarana pendidikan yang layak, adalah sebuah cita-cita yang mulia dan patut mendapatkan apresiasi....
%d blogger menyukai ini: