Perdebatan Eka Wandoro di Persidangan Tb Iman Ariyadi

BERITAKARYA.CO.ID, SERANG - Sidang kasus dugaan suap Transmart dengan terdakwa Walikota Cilegon nonaktif, Tb Iman Ariyadi, Kepala Dinas PM-PTSP, Ahmad Dita Prawira dan pihak swasta bernama Hendri dengan agenda keterangan saksi-saksi yang digelar di Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri (PN) Serang, Kamis (22/2/2018) berlangsung hingga malam hari.
JPU dan penasehat hukum saat memerlihatkan bukti di persidangan/beritakarya.co.id

Walikota Cilegon nonaktif,  Tb Iman Ariyadi tidak membuang kesempatan untuk mengklarifikasi keterangan BAP saksi Eka Wandoro, Legal Manager PT KIEC yang juga terdakwa dalam kasus yang sama. Tb Iman menyampaikan keberatan kepada Majelis Hakim Tipikor terkait BAP Eka Wandoro yang menurutnya tidak sesuai kenyataan, dan hanya berupa asumsi Eka Wandoro saja.

“Mohon maaf Yang Mulia, saya ingin mengklarifikasi langsung kepada saudara saksi Eka Wandoro terkait kesaksian dalam BAP-nya. Saudara Eka, saya ingin bertanya dan tolong jawab dengan sebenar-benarnya. Sebab menurut saya kesaksian Anda dalam BAP itu sangat mendzolimi saya,” kata Tb Iman Ariyadi membuka pertanyaan.

“Anda mengatakan dalam BAP bahwa pertemuan saya dengan Pak Donny (Tubagus Donny Sugihmukti, Dirut PT KIEC) dan Pak Dita adalah terkait perizinan. Saya mau tanya, bagaimana saudara saksi bisa mengatakan itu padahal saudara tidak ada ikut,” tanya Tb Iman.

Mendapat pertanyaan seperti itu,  saksi yang juga terdakwa Eka Wandoro mengatakan bahwa pengakuannya dalam BAP adalah hanya menurut perkiraannya saja. “Itu menurut pandangan saya,” kata Eka.

Tb Iman Ariyadi pun meminta Majelis Hakim mencatat pengakuan Eka Wandoro . “Jawaban saudara saksi ini aneh, dia tidak hadir kok bisa menyimpulkan sendiri. Yang Mulia tolong dicatat, itu BAP merupakan kesimpulan Eka sendiri dan tidak sesuai dengan fakta yang sebenarnya,” pinta Tb Iman Ariyadi.

Walikota Cilegon nonaktif itu juga bertanya tentang peruntukan uang yang diduga suap yang dikirim PT KIEC ke rekening Cilegon United sebesar Rp700 juta.

“Saudara saksi, dalam BAP Anda mengatakan bahwa uang 700 juta itu untuk perizinan, tapi dalam BAP lain Anda mengatakan uang itu untuk rekomendasi, dan di BAP lainnya Anda mengatakan untuk sponsorship. Lalu sebenarnya uang yang Anda kirim itu peruntukannya untuk apa,” tanya Tb Iman lagi.

Eka tampak bingung mendapat pertanyaan seperti itu. Dia lalu menyatakan bahwa uang itu muaranya untuk rekomendasi izin, meskipun dalam BAP disebutkan peruntukan uang itu untuk izin, rekomendasi, dan sponsorship.

Tb Iman Ariyadi kembali meminta agar Majelis Hakim mencatat bukti persidangan soal BAP Eka Wandoyo terkait peruntukan uang yang ditransfer ke rekening Cilegon United tersebut.

Pertanyaan berikutnya disampaikan Tb Iman Ariyadi terkait BAP Eka Wandoro yang bertanya kepada Manager CU, Yudi Aprianto.

“Anda bertanya kepada saudara Yudi, nanti logo PT KIEC dipasang di kostum CU dibagian mana, belakang atau samping. Pertanyaan saya, apakah menurut Anda pemasangan logo KIEC di kaos CU itu bentuk sponsorship atau izin,” tanya Tb Iman Ariyadi.

Eka lalu menjawab setelah sejenak berpikir. “Itu bentuk sponsorship,” kata Eka. “Jadi jelas kan bahwa uang yang Anda transfer ke CU itu untuk sponsorship,” tanya Tb Iman lagi. “Cukup yang mulia,” tutup Iman.

Pengacara Ahmad Dita Prawira, Aidi Johan kemudian bertanya kepada Eka Wandoro terkait posisinya sebagai tersangka dan terdakwa dalam kasus tersebut.

“Saudara saksi, Anda menjadi terdakwa dalam kasus ini atas tuduhan apa,” tanya Aidi Johan.

“Berdasarkan dakwaan jaksa, kasus suap,” jawab Eka.

“Kalau Anda didakwa sebagai pemberi suap, lalu siapa penerima uang suap itu,” tanya Aidi Johan lagi.

“Manager Cilegon United (Yudi Aprianto, red),” jawab Eka.

“Sepengetahuan Anda, apakah penerima uang suap dari Anda itu jadi tersangka,” sambung  Aidi Johan.

“Tidak. Dia (Yudi) tidak jadi tersangka,” jawab Eka.

“Kalau Anda didakwa sebagai penyuap, tapi penerima suapnya tidak jadi tersangka, lalu kenapa klien kami (Tb Iman Ariyadi, Ahmad Dita Prawira, dan Hendri) yang bukan penerima suap ada di sini sebagai terdakwa?” tanya Aidi Johan lagi. Eka pun diam karena mengaku tidak tahu.

Dalam kesempatan itu, Hendri yang dalam BAP Eka Wandoro disebut sebagai orang dekat (utusan) Walikota Cilegon dan meminta uang Rp2,5 miliar untuk perizinan angkat bicara. Di depan Majelis Hakim, Hendri mengkarifikasi dan menolak kesaksian Eka Wandoro .

“Pak Eka, kita ini berteman. Jangan sampai gara-gara ini saya malah dizalimi. Saya tidak pernah mengaku sebagai orang dekat atau utusan Walikota Cilegon. Saya juga tidak pernah meminta uang untuk perizinan Rp2,5 miliar mengatasnamakan Pak Iman. Jadi Yang Mulia, saya keberatan dengan pernyataan saudara Eka, karena saya tidak pernah mengaku sebagai utusan walikota apalagi meminta uang Rp2,5 miliar atas perintah walikota,” kata Hendri.

Sidang pun berakhir sekitar pukul 20.30 WIB. Setelah Ketua Majelis Hakim, Epiyanto menyampaikan resume perjalanan sidang termasuk keberatan Walikota Cilegon nonaktif, Tb Iman Ariyadi, Ahmad Dita Prawira, dan Hendri.

Pekan depan, ada perubahan waktu sidang. Jika tiga sidang sebelumnya digelar hari Kamis, maka pekan depan akan digelar hari Rabu. Perubahan waktu sidang itu berdasarkan permintaan dan kesepakatan antara penasehat hukum dan JPU KPK.

Iffan Gondrong

Categories
Hukum & Kriminal

Trusted News Site
No Comment

Leave a Reply

LOWONGAN

RELATED BY

%d blogger menyukai ini: