Pementasan Siti Jenar dan Gedung Kesenian

BERITAKARYA.CO.ID, SERANG - Pementasan terakhir Teater Kain Hitam Gesbica UIN SMH Banten dengan lakon Syeh Siti Jenar di Aula Utama UIN SMH Banten tadi malam, disaksikan ratusan pegiat seni, komunitas, sanggar, pelajar hingga mahasiswa. Para seniman mulai dari aktor teater, perupa, penari, sastrawan, pelukis tumplek blek menyaksikan pementasan terakhir di Kota Serang itu.
SITI JENAR: Pementasan Teater Kain Hitam Gesbica UIN Banten dengan lakon Syeh Siti Jenar/Foto Toto ST Radik

Seniman besar dan pemerhati seni yang hadir menyaksikan pementasan Siti Jenar antara lain Toto St Radik, Nazla Keiza, Gebar Sasmita, Ibu Ps Megananda, Firman Venayaksa, Cak Wo, Isbatullah Alibasja, Indra Kusuma, Alfarisi, Ibu Maya, Ketua DKC Ahdi. Hadir juga tokoh lainnya seperti Tenaga Ahli Gubernur Banten, Ikhsan Ahmad, dan sebelumnya ikut hadir Anggota DPR-RI, Ibu Ei Nurul Khotimah.

Pementasan berdurasi sekitar 1 jam 20 menit itu berlangsung cukup baik. Tata cahaya yang dimotori Nedy Yang Terlupakan sangat memukau. Warna-warni cahaya lampu menambah pementasan makin ritus.

Usai pementasan yang dilanjutkan dengan diskusi,, Sutradara Siti Jenar, Opik Jenggot mengatakan, pemilihan naskah Siti Jenar karya Vredy Kastam Marta karena menurutnya naskah tersebut masih sesuai dengan kondisi saat ini. Pesan-pesan Vredy Kastam Marta yang disampaikan Siti Jenar dalam dialognya pun sangat sesuai dengan kekinian, mulai dari pergulatan baik dan buruk, kekuasaan, dan kegelisahan rakyat.

“Kondisi saat ini, kita sering melihat orang-orang melakukan pembenaran dengan simbol-simbol agama. Melakukan pembenaran dengan memaksakan pemikiran dan gagasannya, sembari mendowngrade pihak lain yang tidak sejalan dengan alur politik dan sikanya. Itulah kenapa saya mengangkat naskah Siti Jenar ini,” terang Opik Jenggot.

Dalam kesempatan itu pula, sastrawan Toto St Radik mengungkapkan kegelisahannya setelah menyaksikan alur cerita. Bagi Toto St Radik, alur cerita masih ngambang dimana tidak ada penegasan soal “Ana Al-haq” dari sosok Siti Jenar.

“Ini yang menurut saya kurang. Siti Jenar dalam konteks malam ini belum secara tegas mengatakan “Ana Al-haq”. Saat ini orang-orang takut mengatakan kebenaran. Padahal sejatinya,kebenaran itu harus dikatakan. Nah, pesan sayalah kebenaran ini yang belum saya tangkap,” kata Toto St Radik.

Sementara itu, Purwo Rubiono atau biasa disapa Cak Wo yang merupakan dramaturg Siti Jenar mengatakan, ada banyak versi tentang cerita Syeh Siti Jenar. Dari berbagai versi itu, ada 7 buku yang mengupassecara khusus tentang Siti Jenar. Buku 7 jilid tersebut karya Agus Sunyoto, yang pada akhirnya menjadi rujukan baginya dalam konteks konsep garap Siti Jenar yang dikemas oleh Opik Jenggot.

“Dalam buku Agus Sunyoto, Siti Jenar dengan para wali itu bukan konflik agama, tetapi konflik kepentingan kekuasaan. Karenanya, yang dimunculkan dalam garapan ini tidak secara khusus mengupas soal ajaran Siti Jenar,” terang Cak Wo.

Pentolan Sanggar Reksa Budaya, Ibu Maya dalam kesempatan itu mengapresiasi pertunjukan Siti Jenar Teater Kain Hitam Gesbica UIN Banten. Dia mendorong agar proses kreatif dan garapan teater terus dilakukan.

“Saya sangat mengapresiasi pertunjukan ini. Mudah-mudahan proses kreatif ini terus berlanjut,” ujarnya.

Sebelumnya, Anggota DPR-RI,  Ei Nurul Khotimah menilai, pertunjukan teater menjadi jawaban kegelisahan penikmat seni ditengah, generasi alay yang saat ini ada. Dia bahkan mengatakan bahwa secara pribadi, dirinya siap membantu sekuat tenaga untuk terus mengembangkan proses kreatif seniman di Banten.

“Ini pertunjukan yang serius dan amat bagus. Cukup untuk mengobati dahaga para penikmat seni pertunjukan, ditengah generasi alay saat ini,” kata dia.

Pada bagian lain, penyair Ibnu PS Megananda menyoroti pertunjukan dari sisi lain. Dia menilai pertunjukan teater seperti Syeh Siti Jenar tidak layak digelar di aula. Pertunjukan teater sejatinya digelar di gedung kesenian. Sayangnya, di Banten belum ada gedung kesenian, padahal gedung kesenian adalah hak masyarakat berbudaya yang harus dipenuhi pemerintah.

“Saya miris. Pertunjukan sebaik dan sebagus ini tapi tidak digelar di gedung kesenian. Pemprov Banten harus segera merealisasikan gedung kesenian. Masa selamanya pertunjukan teater digelar di aula, yang secara estetika dan artistik sangat tidak mendukung,” pungkasnya.

Iffan Gondrong

Categories
Serang

Trusted News Site
No Comment

Leave a Reply

LOWONGAN

RELATED BY

%d blogger menyukai ini: