Mengharukan! Anak Punk Bagikan Mie Instan untuk Massa Reuni 212

BERITAKARYA.CO.ID, JAKARTA - Massa Aksi Reuni 212 sudah menjejali area Monas sejak Sabtu malam menjelang Minggu dini hari tadi. Namun dari itu semua, ada yang menarik lainnya dari massa Aksi Reuni 212 kali ini, yakni hadirnya posko Komunitas Punk Muslim.
ANAK PUNK: Posko Pung Muslim di Aksi Reuni 212/Foto Repro CNNIndonesia.com/NET

Adalah Iip Kiswaryadi, Koordinator Komunitas Punk Muslim yang terlihat sangat bersemangat malam itu. Iip membagikan mie instan yang sudah matang kepada massa Aksi Reuni 212, meskipun waktu telah menunjukkan lebih dari pukul 00.00 WIB.

Dilansir dari CNNIndonesia.com, pria yang bergelut sebagai ‘anak punk’ sejak tahun 1996 itu asyik melayani massa yang sudah mengantre panjang.

Iip tak sendirian. Sedikitnya ada sepuluh ‘Anak Punk’ lainnya yang ikut Reuni Aksi 212. Mereka membantu kawan-kawan dari Gerak Bareng Community untuk membagikan makanan.

Bagi Iip Kiswaryadi, Reuni Aksi 212 menjadi ajang menambah pahala. Karena dirinya bisa ikut membantu memberikan bantuan, meskipun hanya lewat tenaga.

“Kami gabung dari teman-teman Gerak Bareng. Mereka sediakan logistik. Kalau teman-teman Punk Muslim, kami bantu tenaga,” ujar Iip di sela kesibukannya di Monas, Jakarta Pusat, Minggu (2/12/2018).

Iip mengatakan Punk Muslim dan Gerak Bareng Community memang sudah mempersiapkan hal ini sejak seminggu lalu. Bersama-sama, kedua komunitas ini menempati salah satu tenda yang ada di Monas.

Iip mengaku sudah tidak asing dengan kegiatan tersebut meski anggapan tentang dirinya sebagai anak punk dianggap negatif. Iip mengaku mulai tertarik dengan agama sejak 2007 silam. Kala itu, almarhum Budi Khoironi yang merupakan sahabatnya memiliki keinginan membawa Punk ke arah yang lebih baik. Walaupun berjiwa bebas dan memberontak, namun tidak jauh dari nilai-nilai agama.

Iip mengaku selalu diberikan pencerahan oleh Budi. Sampai kemudian dirinya pun merenungkan ajakan Budi dan memilih berhijrah tanpa meninggalkan jati dirinya sebagai anak Punk.

“Setahun lah saya terus memikirkan dan ngikutin perkataan Budi, baru menyatakan gabung komunitas,” kata dia.

Di Komunitas Punk Muslim, Iip mendapatkan banyak pelajaran soal agama. Salah satu yang paling berharga, kata dia, adalah kesabaran dalam mendapatkan rezeki.

Iip menceritakan kala hidup di jalanan, tiada hari tanpa emosi karena lingkungan yang keras memaksanya melawan dengan arogan.

Ketika mengamen, misalnya, Iip tak segan-segan mengumpat bahkan memukul warga yang tak memberinya uang. Tapi, itu dulu ketika dirinya belum mengenal agama.

Saat ini, meskipun situasinya semakin sulit, terlebih bus kota mulai tergantikan dengan Transjakarta, Iip tidak takut rezekinya akan ikut mati juga. Ia mengaku masih bisa mengamen ke rumah-rumah warga atau pasar untuk mendapatkan rezeki.

Meskipun harus berjalan lebih jauh dibandingkan naik turun bus kota, namun dirinya merasa mendapatkan rezeki yang cukup.

“Enggak emosi lagi. Kita kan sudah dituangin (diajarin) agama sama ustaz kita. Jadi mengerti lah. Enggak usah takut rezeki seret, bergerak saja. Yang pentingnya kita berusaha saja,” ucap Iip.

Iip mengatakan, kini kesibukannya sehari-hari tak hanya mengamen. Sesekali ia menyambangi kawan-kawannya sesama anak jalanan di bilangan Tebet, Jakarta Selatan atau Depok, Jawa Barat. Di sana, Iip menyampaikan dakwah.

Iip mengaku salah satu alasannya melakukan ini untuk meneruskan niat Budi, sang sahabat. Bagi Iip, Punk sedianya tak jauh dari agama.

“Perlawanan dan kebebasan tanpa agama sama saja kayak binatang. Jadi, Punk Muslim itu perlawanan dan kebebasan didampingi dengan agama,” pungkasnya.

Baca Sumber

Uploader: Iffan Gondrong

Categories
Features

Trusted News Site
No Comment

Leave a Reply

RELATED BY

%d blogger menyukai ini: