LPA Banten Prediksi Kasus Kekerasan Terhadap Anak Meningkat di 2021

BERITAKARYA.CO.ID, CILEGON - Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Provinsi Banten prediksikan korban kasus kekerasan terhadap anak pada 2021 akan meningkat....

Prediksi tersebut berdasarkan hasil laporan dari Januari-Juli 2021 tercatat lebih dari 30 kasus kekerasan terhadap anak yang terlapor ke LPA Banten.

Ketua Demisioner LPA Banten Uut Lutfi mengatakan, sebelumnya pada 2020, pihaknya menangani sebanyak 69 kasus kekerasan terhadap anak selama satu tahun.

“Kalau tahun lalu LPA Banten menangani 69 kasus, itu per tahun. Tapi sekarang dari bulan Januari sampai Juni sudah 30 lebih. Ini berarti bisa jadi ada peningkatan. Itu yang lapor ke LPA, belum yang lapor ke misalnya UPT PPA atau yang lainnya,” kata Uut usai kegiatan Forum Wilayah (Forwil) di Aula Setda Kota Cilegon, Sabtu (19/6/2021).

Uut mengungkapkan, kejahatan seksual terhadap anak menjadi yang tertinggi dari sekian rentetan kasus kekerasan lainnya terhadap anak.

Menurut Uut, minimnya pengawasan orang tua terhadap anak dalam menggunakan media sosial menjadi salah satu pemicu terbesar terjadinya kejahatan seksual terhadap anak.

“Saat menggunakan gadget tanpa ada pengawasan dan edukasi dari orang tua, dari sekolah atau mungkin dari pemerintah yang minim, sehingga akhirnya mereka menggunakan fasilitas itu tidak hanya untuk belajar, tetapi justru mereka berkomunikasi dengan orang yang tidak dikenal di media sosial kemudian bertemu di suatu tempat, maka terjadilah kejahatan seksual tersebut,” ujarnya.

Sementara, Ketua LPA Cilegon, Ahdi Khumaeni menuturkan, korban kekerasan terhadap anak yang melaporkan di kota industri mengalami penurunan di 2021.

“Update terakhir itu 2020 dari mulai pandemi itu kalau tidak salah sampai bulan Juli 80 kasus, total sampai Desember sesuai dengan data yang dipublikasi oleh DP3AKB sekitar 200, itu terbagi ke beberapa tindak kejahatan, tindak pidana, tapi itu kasus. Untuk korban sendiri saat ini berdasarkan pengakuan baru 1 korban yang melapor,” tuturnya.

Kendati mengalami penurunan, tidak lantas membuat hal itu menjadi aman. Ahdi mengungkapkan, ada kekhawatiran tersendiri dengan kondisi tersebut.

“Ketika menurun bukan cuma berarti kita berhasil menekan. Kalau menurun bisa jadi takutnya ada korban yang tidak berani melapor. Karena memang mindset masyarakat ketika terjadi pelaporan masih merasa menjadi aib,” ungkapnya.

Peran keluarga dan lingkungan, lanjut Ahdi menjadi faktor penentu untuk menekan tindak kekerasan terhadap anak.

Dengan perkembangan teknologi yang begitu cepat, menjadi faktor yang mempengaruhi gaya hidup anak-anak, Ahdi berharap pengawasan orang tua lebih ditingkatkan.

“Terlebih saat ini anak-anak belajarnya online, tidak di sekolah. Mereka punya banyak waktu berada di luar rumah,” ujarnya.

Penulis: Maulana Abdul Haq

Categories
Cilegon

Trusted News Site
No Comment

Leave a Reply

LOWONGAN

RELATED BY

%d blogger menyukai ini: