Kisah Tajudin, Si Tukang Cobek yang Dipenjara Tanpa Dosa

BERKARYA.CO.ID – Hukum seolah menjadi algojo kejam bagi yang lemah. Tanpa ampun, algojo akan menghabisi siapa saja meski tanpa salah dan dosa. Hukum yang sejatinya menjadi panglima dan jembatan...
Tajudin/Net

BERKARYA.CO.ID – Hukum seolah menjadi algojo kejam bagi yang lemah. Tanpa ampun, algojo akan menghabisi siapa saja meski tanpa salah dan dosa.

Hukum yang sejatinya menjadi panglima dan jembatan mencari keadilan, kerap berubah dari poros yang sebenarnya. Hukum yang sejatinya menjadi tiang bersandar, malah ibara palu godam yang sanggup menghancurkan apa saja.

Perumpamaan itu sangat pas untuk menggambarkan pria bernama Tajudin, si penjual cobek. Pria polo situ dipenjara selama 9 bulan tanpa dosa.

Tajudin ditangkap anggota dari Polres Tangerang Selatan pada April 2016 lalu. Saat ditangkap, istri Tajudin sedang hamil 4 bulan. Setelah masuk bui, Tajudin tidak bisa menghubungi istrinya, begitu pun keluarga Tajudin tidak berani menjenguk Tajudin di penjara. Akhirnya anak Tajudin lahir tanpa ditunggui ayahnya.

Terpisah dari keluarga selama 9 bulan lebih, keluarga Tajudin morat-marit. Tajudin yang menjadi tulang punggung keluarga tidak bisa memberi nafkah keluarganya, termasuk istrinya yang hamil dan melahirkan. Anaknya yang masih sekolah juga tidak terpantau perkembangannya.

Lelaki berusia 41 tahun itu ditangkap jajaran Polres Tangerang Selatan lantaran dituduh mengeksploitasi dua bocah di bawah umur yakni CN dan DD. Ia dituduh menyuruh kedua anak tersebut untuk bekerja menjual cobek di wilayah Perumahan Graha Raya, Bintaro, Tangerang Selatan. Namun tuduhan itu nyatanya tak terbukti.

Kegetiran itu benar-benar dirasakan oleh ayah tiga anak ini. Ia harus merasakan kepedihan yang mendalam dari awal mula dirinya ditangkap hingga ditahan. “Saya enggak tahu apa-apa tiba-tiba dituduh macam-macam dan ditangkap,” ucap Tajudin lirih.

Ia menceritakan detik- detik kengerian proses penangkapannya. Ia dicokok oleh anggota polisi lengkap dengan senjata. “Waktu itu sempat ditodong pistol dan dipukul sendal saat ditangkap,” katanya.

Tajudin digelandang ke Mapolresta Tangerang Selatan. “Saya ditanya-tanya sama petugas. Malah kepala saya sempet ditempeleng pakai botol air mineral,” ungkap lelaki asal Bandung tersebut.

Tajudin ditahan di balik jeruji yang kelebihan kapasitas di dalamnya. Ia merasakan sulitnya tidur dan bergerak di dalam sel. “Saya tidur juga harus miring. Itu desak-desakan banget sama tahanan lainnya,” tutur Tajudin.

Selama dalam tahanan, si penjual cobek itu menghabiskan waktunya untuk beribadah. Kendati demikian ada saja kendala yang dihadapinya, yaitu kekurangan air bersih di dalam Lapas.

“Saya di penjara kepikiran terus sama keluarga. Mikirin anak dan istri saya makannya gimana. Kalau di tahanan saya dapet makan, tapi enggak tahu istri sama anak saya di kampung makan apa enggak. Soalnya kan enggak saya kirimin uang. Ngebatin banget,” paparnya terisak.

Keluarganya memang mendapatkan kabar bahwa Tajudin ditahan. Namun pihak keluarga tak ada satu pun yang menjenguknya. “Kendalanya di ongkos, jauh dari Bandung ke Tangerang. Lagi juga istri saya takut, dia lagi hamil,” imbuhnya.

Derita Tajudin berakhir dengan vonis bebas dari PN Tangerang pada Kamis (12/1/2017) lalu. Hakim menyatakan perbuatan Tajudin bukan mengeksploitasi anak, tapi membantu anak dalam mencari uang tambahan. Dimana seharusnya negara yang paling bertanggung jawab dengan banyaknya anak-anak yang harus mencari nafkah sendiri.

Anak pertamanya masih duduk di bangku SMA. Sedangkan anak kedua mengenyam pendidikan SMP. “Saya mau pulang ke kampung. Kangen ketemu anak istri,” pungkasnya.

Tapi bebasnya Tajudin dari Rutan Tangerang tidak seketika itu juga, karena proses administrasi pengadilan yang lambat. Tajudin baru bisa bebas pada Sabtu (14/1/2017) siang setelah bisa mengantongi petikan putusan.

“Hakim mempertimbangkan dengan hasil tes psikologis dari dua anak itu (CN dan DD). Kedua anak tersebut memang tidak dimanfaatkan oleh dia (Tajudin). Sehingga diputuskan bebas,” ujar kuasa hukum Tajudin dari LBH Keadilan, Abdul Hamim Jauzie saat berbincang santai dengan Warta Kota di kantornya, Pamulang, Tangerang Selatan pada Minggu (15/1/2016).

Ia menjelaskan bahkan proses persidangan terhadap si penjual cobek itu sangat berlangsung lama. Tajudin menjalani sidang hingga 24 kali.

Kisah Tajudin ini menjadi viral di media sosial. Kisah pilu anak bangsa yang dihukum oleh apa yang tidak pernah dilakukannya itu mengundang simpatik. Berbagai kalangan silih berganti menawarkan bantuan.

“Ada dari yayasan kemanusiaan akan mengunjungi rumah Tajudin di Padalarang, Bandung untuk memberikan bantuan,” kata Abdul Hamim Jauzie.

Bukan hanya warga Indonesia yang ada di dalam negeri, WNI di berbagai belahan dunia juga menyatakan keprihatinannya dan ingin membantu Tajudin. “Kami mendapatkan email dari WNI yang ada di Amerika Serikat, dan menanyakan nomor rekening bank untuk mentransfer sejumlah uang guna membantu Pak Tajudin,” kata Abdul Hamim Jauzi, Minggu (15/1/2017).

Sebelumnya ada pula dari WNI di Irlandia yang terharu dengan kasus Tajudin dan telah menyumbangkan sejumlah uang buat Tajudin. Dalam bukti yang diterima, WNI tersebut mengirim uang ke rekening LBH Keadilan. “Saya sempat ceritakan, ada WNI begini-begini, terharu juga dia. Ketika itu juga langsung dikirim,” ujar Hamim.

Sumber : detik.com/wartakota.tribunnews.com/

Categories
Hukum & KriminalIndexNasionalTangerang

Trusted News Site
No Comment

Leave a Reply

LOWONGAN

RELATED BY

%d blogger menyukai ini: