Kisah Awal KKN di Desa Penari, Tuah Mahkota Putih dan Selendang Hijau (Bag 4)

Kembali ke grup KKN, mereka membagi kelompok kerja. Masing-masing kelompok dua orang. Bima dengan Ayu, Wahyu dengan Widya dan Nur dengan Anton....
KKN di Desa Penari
Film KKN di Desa Penari. Sumber Instagram@kknmovie

Suatu ketika, saat sedang melakukan proker, Anton bercerita kepada Nur bahwa Bima berkelakuan aneh. Dia sering ngomong dan tersenyum semdirian dan sering pulang membawa sesajen dan menaruhnya di kolong tempat tidurnya.

Nur tidak percaya, sebab dia kenal dengan Bima sejak lama. Menurutnya Bima adalah sosok religius. Karena tidak percaya, Anton kemudian memnawa Nur ke kamar Bima. Dan benar saja, Nur melihat ada sesajen di kolong tempat tidur Bima. Lebih anehnya lagi di dalam sesajen itu ada foto Widya.

Anton melanjutkan ceritanya. Dia mengaku sering mendengar suara perempuan dari dalam kamar Bima, tetapi dia tidak pernah melihat seorang perempuan pun yang keluar dari kamar Bima kecuali Bima sendiri.

Nur terdorong untuk mendekati lemari Bima. Dia terkejut tiba-tiba ada ulah hijau keluar dari lemarai itu. Sejak hari itulah Nur lebih sering mengawasi Bima.

Suatu hari, Nur mendapati Bima sedang menabur bunga di tempat Widya biasanya duduk. Keanehan demi keanehan terus terjadi. Suatu magrib, Anton, Wahyu dan Ayu sedang duduk di teras. Bima sedang pergi bersama Pak Prabu, sementara Nur sedang shalat.

Widya yang berada di ruang tengah berjalan ke dapur. Dia terkejut melihat Nur sedang minum, padahal Nur tadi sedang shalat. Sambil kebingungan, Widya balik ke kamar untuk memastikan bahwa Nur sedang shalat. Tapi dia tidak melihat siapa-siapa di kamar.

Widya gemetar ketakutan. Teman-temannya berinisiatif mengambil air minum buat Widya. Widya meminum air tersebut. Tapi dia tersedak dan spontan tangannya masuk ke mulutnya dan menarik sesuatu.

Ternyata ada tiga helai rambut di dalam minuman itu yang membuat Widya tersedak. Setelah dicek oleh teman-temannya, ternyata kendi air minum itu berisi gumpalan rambut.

Di tengah kebingungan itu, terdengar Bima dan Ayu berseteru. Salah satu kalimat yang tertangkap oleh Nur adalah Ayu menanyakan mahkota putih yang seharusnya diberikan ke Widya, tetapi Widya belum menerimanya.

Keanehan demi keanehan terus saja terjadi. Suatu Hari Nur sedang berjalan-jalan sampai dia bertemu Tapak Tilas. Saat sedang mengamati Tapak Tilas itu, Nur melihat Ayu dan Bima di sana. Di sebuah gubuk yang sudah terpakai. Nur dapat mencium apa yang sedang terjadi di antara mereka di gubuk itu.

Saat yang bersamaan, Widya dan Wahyu sedang ke kota untuk membeli barang-barang keperluar proker. Dalam perjalanan pulang. motor mereka mogok. Mereka didatangi sekelompok pria yang membantu mereka.

Saat para pria itu memperbaiki motor, Widya dan Wahyu diajak ikut dalam sebuah pesta yang sangat meriah dengan jamuan makan yang enak. Ada banyak orang menari dan menyanyi.

Widya dan Wahyu pun makan dengan lahapnya. Saat kembali pulang mereka bahkan dibekali dengan makanan yang dibungkus koran. Tiba di penginapan, mereka heboh bercerita lalu membuka bekal yang diberi para pria tadi.

Namun ternyata, bungkus bekal sudah berubah, bukan koran tapi daun pisang. Saat dibuka betapa terkejutnya mereka, sebab bukan makanan yang ada dalam bungkusan tetapi kepala monyet dengan darah yang masih segar. Setelah kejadian itu, Wahyu sakit selama tiga hari.

Suatu malam, saat Ayu dan Widya sedang tidur, Nur memeriksa tas Ayu untuk mencari mahkota putih yang pernah Ayu bicarakan dengan Bima.

Alangkah kagetnya Nur karena menemukan selendang hijau dalam tas Ayu. Selendang hijau itu mengingatkan Nur pada penari wanita yang pernah ia jumpai.

Tiba-tiba terdengar suara gamelan. Saat itu Widya masuk ke kamar dengan tatapan tajam sambil bicara dalam bahasa jawa yang halus tentang nyawa dan tumbal.

Nur tidak paham apa yang dikatakan Widya. Hanya saja, terakhir Widya berkata bawa dia menjamin Nur akan pulang dengan selamat.

Esoknya, Bima dan Nur mendatangi Nur dan meminta maaf. Mereka mengaku khilaf. Mereka mengaku bertemu dengan seseorang bernama Dayuh, dan mahkota putih itu pemberian Dawuh.

Menurut Dawuh, bila mahkota putih itu diberikan kepada Widya maka Widya akan jatuh cinta sama Bima. Ternyata, mahkota putih itu tidak diberikan kepada Widya tapi disimpan oleh Ayu, karena Ayu menyukai Bima.

Keanehan lainnya, saat Widya kembali ke penginapan. Hari sudah gelap, tidak ada siapapun di rumah. Rumah hanya diberi penerangan petromak.

Dia melihat Nur sedang duduk dengan tatapan mata kosong ke arah Widya. Widya menyapa Nur tapi Nur diam saja. Nur malah menyenderkan kepalanya ke kursi, lalu Nur mulai berbicara, tetapi suaranya berubah menjadi suara suara wanita tua. Begnini katanya.

“Cah ayu betah ya tinggal di sini,” Widya pun menangis ketakutan. Tapi Nur yang bersuara nenek-nenek itu menenangkan Widya untuk tidak menangis. Nur yang bersuara nenek tua itu terus berbicara.

“Kamu ndak tahu siapa aku. Kamu pikir kalau ndak ada aku anak nakal seperti temanmu yang sudah membawa penunggu disini bisa mencelakai cucuku? Aku selama ini sudah menjaganya, tidak akan kubiarkan mereka mendekati cucuku, mengerti. Cah ayu satu dari temanmu tidak bisa kembali, jika kamu belum sadar semuanya akan terjadi, ingatkan anak itu yang sedang membawa petaka, jika dibiarkan, semuanya akan kena batunya di desa ini”.

Setelah mengatakan itu, Nur tiba-tiba berteriak keras sekali dan kemudian terjatuh. Widya memapah Nur ke kamar dan menunggunya sampai Nur terbangun.

Sejak hari itu, Nur merasa ada sesuatu di Widya. Nur pun mengecek semua barang-barang Widya. Dia menemukan mahkota putih di dalam tas Widya. Mahkota yang sangat Indah dengan batu berwarna hijau di tengahnya.

(Bersambung)

Categories
Nasional

Trusted News Site
No Comment

Leave a Reply

LOWONGAN

RELATED BY

%d blogger menyukai ini: