Kisah Awal KKN di Desa Penari, Tuah Mahkota Putih dan Selendang Hijau (Bag 2)

Tibalah hari dimana mereka akan beangkat KKN. Nur masih punya ganjalan untuk pergi ke lokasi KKN tersebut. Dan ternyata bukan hanya Nur, orangtua Widya juga punya perasaan yang sama....
KKN di Desa Penari
Film KKN di Desa Penari. Sumber Instagram@kknmovie

Namun karena desa itu dinilai cocok untuk KKN mereka, maka sang ibu mengizinkan Widya pergi KKN ke desa itu dengan iringan doa.

Rombongan KKN pun berangkat dengan menggunakan mobil elf. Perjalanan mereka ke lokasi KKN ditemani hujan gerimis. Keanehan pertama mulai terjadi. Saat mereka berhenti di lampu merah, ada seorang pengemis perempuan tua yang menghampiri mereka dan tiba-tiba menggebrak mobil mereka.

Sopir elf kemudian meneriaki pengemis tua itu seraya memberikan uang receh kepadanya. Nur menoleh ke pengemis tua itu. Nur merasa bahwa bibir perempuan itu itu seolah berkata “jangan pergi kesana nak”.

Tiba di desa terakhir yang bisa diakses mobil, mereka melanjutkan perjalanan dengan menggunakan motor yang telah disiapkan sebelumnya oleh orang desa. Mereka kemudian berangkat melewati hutan.

Perjalan harus ekstra hati-hati karena jalan hutan becek dan berlumpur karena sebelumnya diguyur hujan. Tak ada suara lain di dalam hutan itu kecuali suara deru mesin motor yang mereka tumpangi.

Tiba-tiba, Nur mendengar suara alunan gamelan. Awalnya suara gamelan itu terndengar sayup-sayup, namun akhirnya sangat jelas terdengar di telinganya.

Bukan hanya itu, Nur mencium aroma melati yang begitu kuat. Nur menoleh kesana-kemari mencari dari mana sumber suara gamelan itu berasal.

Tiba-tiba Nur melihat seorang perempuan yang sedang menunduk di atara rerumputan di pinggiran jalan setapak. Peremuan itu kemudian mengikuti Nur dengan melenggak-lenggokkan leher dan menggerakan tagannya mengikuti irama gamelan. Perempuan itu terus menari di tengah gelap dan sunyinya hutan.

Tiba di desa, Widya berkata ke Pak Prabu bahwa lokasi desanya sangat jauh. Namun Pak Prabu membantah. Ia mengatakan bahwa dari kota menuju desanya hanya menempuh perjalanan 30 menit saja.

Pada saat Widya berkata ke Pak Prabu, Nur diam saja. Dia melihat sosok hitam dengan mata berwarna merah sedang mengintai mereka dari balik pepohonan.

Setelah itu, mereka berenam diajak keliling desa untuk melihat lokasi proker mereka. Di tengah jalan mereka melihat ada kuburan yang semua batu nisannya dibungkus dengan kain hitam. Kuburan itu dikelilingi pohon beringin dan sesajen di sana.

Menurut versi Widya. Nur merasak tidak enak badan dan meminta izin untuk kembali ke penginapan mereka, sementara yang lain melanjutkan perjalanan sampai mereka bertemu Tapak Tilas.

Tapak Tilas merupakan sebuah batas dimana tak boleh satupun melewati batas itu. Di kiri dan kanan Tapak Tilas ada kain merah dan janur kuning.

Pak Prabu menjelaskan bahwa itu adalah batas jalan yang boleh dilewati, sebab disebelah sana adalah hutan yang bila mereka kesana sulit bisa ditemukan kembali.

Sekembalinya mereka ke penginapan, Nur mencoba berbicara dengan Ayu dan mengatakan bahwa ada sesuatu di desa itu. Itu sebabnya Pak Prabu sejak awal berusaha menolak mereka untuk KKN di sana. Namun Ayu menepis semua apa yang dikatakan Nur. Ia mengatakan tenang saja, tidak akan ada sesuatu yang terjadi.

Malam tiba. Nur tidur beralaskan tikar bersama Ayu dan Widya kembali merasakan sesuatu yang tidak enak. Benar saja, di dalam kamar yang minim cahaya itu dia melihat sosok hitam dengan mata merah menyala ada di salah satu sudut kamar.

Sambil ketakutan, Nur menutupi kepalanya dengan selimut seraya merapalkan doa-doa. Anehnya, setiap selesai doa ada suara seperti kayu yang digebrakkan. Nur menangis sampai akhirnya tertidur.

Esoknya, mereka mandi di sebuah kolam kecil yang biasa digunakan warga setempat untuk mandi. Mereka mandi secara bergantian. Nur yang pertama kali mandi, sementara Widya menjaga di depan.

Saat mandi, Nur mencium bau daging busuk yang menyengat. Tak hanya itu, setiap kali mengguyurkan air ke badannya dia merasa ada yang menyentuh tubuhnya.

Ternyata di dalam kendi air itu berisi helaian rambut yang sangat banyak. Nur pun buru-buru menyelesaikan mandinya. Ketika hendak keluar pintu bilik mandinya tidak bisa dibuka, seperti ada sesuatu yang menahannya.

Nur pun berteriak kepada Widya meminta tolong dibukakan pintunya. Namun tidak ada jawaban dari Widya.Dia pun terus berteriak memanggil Widya, namun tetap tidak ada jawaban.

Sampai akhirnya Nur menyadari bahwa ada sosok besar di belakangnya. Saking besarnya sosok tersebut sampai kepalanya menyentuh atap bilik mandi.

Nur melempari sosok besar itu dengan batu dan pintu bilik mandi pun terbuka. Di depan pintu masih ada Widya yang terlihat kebingungan. Nur tidak bilang apa-apa ke Widya. Nur hanya bilang akan menggantikan Widya menjaga di depan pintu.

Saat mengunggu Widya mandi, Nur mendengar suara wanita sedang berkidung. Awalnya ia menduga itu adalah Widya. Dipun memanggil Widya perlahan namun tak ada jawaban.

Nur lalu mengintip ke dalam bilik mandi melalui celah pintu. Apa yang dia lihat ternyata bukan Widya, tetapi sosok perempuan cantik yang sedang membasuk tubuhnya sambil berkidung. Wanita di dalam bilik mandi itupun menoleh ke arah Nur yang sedang ngintip. Dia tersenyum ke arah Nur.

(Bersambung)

Categories
Nasional

Trusted News Site
No Comment

Leave a Reply

LOWONGAN

RELATED BY

%d blogger menyukai ini: