Kisah Awal KKN di Desa Penari, Tuah Mahkota Putih dan Selendang Hijau (Bag 1)

BERITAKARYA.CO.ID, JAKARTA - Film KKN di Desa Penari yang baru dirilis dan diserbu jutaan penonton berawal dari kisah yang diceritakan di akun twitter @simpleman dan viral pada tahun 2019....
KKN di Desa Penari
Film KKN di Desa Penari. Sumber Instagram@kknmovie

Akun @simpleman menceritakan kejadian KKN di Desa Penari di akun twitternya selama hampir sebulan, yakni mulai 24 Juni hingga 25 Juli 2019.

Tulisan @simpleman yang dibagi dalam beberapa thread itu diyakini oleh netizen bukan cerita biasa tetapi sebuah kisah nyata yang sengaja diunggah ke publik.

Namun semua nama, lokasi, kampus dan fakultas yang diceritakan oleh @simpleman sengaja disamarkan. Hanya saja, mahasiswa yang ikut KKN diceritakan merupakan angkatan 2005-2006. Kisah KKN di Desa Penari ini ada dua versi. Pertama versi Nur dan kedua versi Widya.

Dalam cerita yang dikisahkan itu, ada enam mahasiswa dan mahasiswi yakni Nur, Ayu, Widya, Bima, Wahyu dan Anton.

Selain enam mahasiswa di atas, ada juga tokoh lain yang kerap disebut-sebut dalam kisah horor tersebut yakni Ilham (kakak Ayu), Mbah Buyut dan Pak Prabu.

Cerita dimulai dengan obrolan antara Ayu dan Nur yang membahas tentang lokasi yang cocok untuk mereka KKN, dan Ilham kakanya Ayu siap mengantar mereka ke lokasi tersebut.

Singkat cerita, berangkatlah Nur, Ayu dan Ilham ke lokasi KKN dimaksud dengan mobil. Mereka menempuh perjalanan sekira 4 hingga 6 jam sampai tiba di desa tersebut.

Selama di perjalanan, Ayu tampak bersemangat dan berupaya meyakinkan Nur bahwa desa itu akan cocok banget untuk dijadikan lokasi KKN karena alamnya masih asri.

Masih dalam perjalanan, Nur melihat kakek pengemis tua yang menatap ke arahnya. Si kakek seolah berkata berhenti, jangan teruskan ke arah sana.

Tak lama berselang, hujan turun. Menuju desa tersebut tidak mudah karena belum ada akses jalan yang bisa dilalui kendaraan roda empat.

Mereka akhirnya berhenti di kota terdekat, dan memilih melanjutkan perjalanan ke desa dengan motor menembus hutan untuk tiba di desa tersebut.

Di tengah hutan, Nur melihat wanita cantik yang tersenyum ke arahnya dengan tatapan mata yang sangat tajam. Wanita itu sedang menari di atas batu. Nur merasakan sesuatu yang tidak enak.

Saat dia mencoba menoleh kembali ke arah wanita yang sedang menari itu, ternyata wanita tersebut sudah tidak ada entah kemana. Nur sadar, ada sesuatu yang menyambut kedatangan mereka ke desa itu.

Akhirnya mereka bertiga tiba di desa dimaksud. Mereka singgah di rumah temannya Ilham bernama Pak Prabu, kepala desa di daerah tersebut.

Setelah mendengarkan maksud dan tujuan kedatangan mereka, awalnya Pak Prabu menolak dan tidak mengizinkan mahasiswa-mahasiswi untuk KKN di desanya. Alasannya belum pernah ada kegiatan di desanya itu.

Namun Ilham terus meminta bantuan Pak Prabu agar mengizinkan adiknya melakukan KKN di sana. Ilham berusaha meyakinkan bahwa mahasiswa-mahasiswi yang akan KKN adalah orang baik-baik dan tidak akan melakukan hal yang aneh-aneh dan mengganggu penduduk desa. Akhirnya, Pak Prabu mengizinkan mereka untuk melaksanakan KKN di desanya.

Sejurus kemudian, Pak Prabu mengajak mereka berkeliling desa untuk melihat situasi dan keadaan desa itu. Di tengah perjalanan Nur melihat sebuah batu yang ditutup kain dan di bawahnya ada sesajen dan kemenyan.

Di atas batu Nur melihat ada sosok hitam besar dengan mata berwarna merah menyala, sekujur tubuhnya ditumbuhi rambut tebal danada tanduk kerbau di kepalanya. Nur kemudian sempat bilang ke Ayu agar mereka segera pergi saja dari tempat itu.

Mereka kemudian pulang. Dalam di dalam mobil Ayu usul untuk mengajak Bima, Widya dan salah satu senior mereka untuk bagung di grup KKN mereka.

Awalnya Nur menolak Ayu mengajak Bima, namun akhirnya dia setuju Bima masuk dalam grup KKN mereka. Nur dan Bima sudah kenal sejak lama, sebab mereka dulu sama-sama satu pondok.

(Bersambung)

Categories
Nasional

Trusted News Site
No Comment

Leave a Reply

LOWONGAN

RELATED BY

%d blogger menyukai ini: