KH Syam’un Ditetapkan Sebagai Pahlawan Nasional

BERITAKARYA.CO.ID,CILEGON - Setelah melalui proses yang cukup panjang, Brigjen KH Syam’un akhirnya ditetapkan sebagai pahlawan nasional oleh pemerintah. Proses pengajuan administrasi dari Pemkab Serang dan Pemprov Banten sejatinya sudah dilakukan beberapa waktu lalu, namun penetapan sebagai pahlawan nasional kepada Brigjen KH Syam’un baru terealisasi di tahun ini.
PAHLAWAN NASIONAL: KH Syam'un/NET

Kepada wartawan di Cilegon, salah satu cucu Brigjen KH Syam’un, Alwiyan Syam’un mengucapkan terima kasih kepada pemerintah yang telah menetapkan leluhurnya sebagai pahlawan nasional. Alwiyan juga mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu sehingga penetapan KH Syam’un sebagai pahlawan nasional terwujud.

“Sekali lagi, saya ucapkan untuk semua pihak yang telah memberikan dukungan. Saya juga sampaikan juga banyak terima kasih kepada Presiden Jokowi, Menteri Sosial,  Ketua Dewan Gelar/Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu, Pak Jimly Assiddiqie, Wakil Ketua Dewan Gelar Nasional, Sekretaris Militer Presiden, KODAM III Siliwangi,  Bapak Gubernur Banten, Ibu Bupati Serang, Bapak Hotman dan seluruh staff Kemensos RI, Dinsos Banten dan Dinsos Kabupaten Serang,” paparnya.

Menurutnya, gelar pahlawan nasional yang didapatkan oleh Brigjen KH Syam’un menjadikan insiprasi dan semangat  baruu untuk generasi muda. Gelar yang diraih itu menurutnya harus dijaga dengan baik.

“Brigjen KH  Syam’un bukan milik keluarga saja, bukan milik Al Khairiyah saja, tapi milik umat sebagaimana kisah hidup beliau yang sebagian besar dipersembahkan untuk umat. Semoga Allah ridho. Aamiin,” tuturnya seraya mengucapkan banyak terima kasih kepada para sahabat yang telah membantu kerja tim bekerja siang dan malam, seperti Ustadz Faisal, Ustadz Rizal, dan Ustadz Sobur.

Brigjen Syam’un merupakan cucu dari KH Wasyid atau lebih ppopuler dengan Ki Wasyid, yang merupakan pemimpin perjuangan Geger Cilegon pada 1888 melawan Belanda. Lahir pada tahun 1883 KH Syam’un menjadi pelopor pengajaran Islam tradisional melalui Al-Khairiyah di Banten yang kemudian tersebar di Jawa sampai Sumatera.

Dalam perjuangannya, ia pernah bergabung dengan Pembela Tanah Air atau Peta pada 1943-1945 dan terlibat untuk pembentukan pemerintah daerah dan diangkat menjadi Pupati Serang.

Dikutip detikcom dari biografi KH Syam’un, yang disusun oleh Mufti Ali dkk, Kamis (8/11/2018) yang merupakan adaptasi dari naskah akademik usulan Pemprov Banten untuk gelar pahlawan nasional, KH Syam’un pernah menjadi komandan Badan Keamanan Rakyat (BKR) dan berada di garis depan pengusiran tentara Jepang pada 1945.

Pada Oktober 1945 sampai Janauari 1946, KH Syam’un turut berupaya menumpas Gerakan Dewan Rakyat. Kemudian, diangkat menjadi panglima TKR Divisi 1000/I dan kemudian diangkat menjadi komandan Brigade I/Tirtayasa periode 1946-1947. Brigade I/Tirtayasa merupakan cikal bakal Korem Maulana Yusuf Serang.

Syam’un muda menempuh pendidikan di Makkah dan Mesir. Saat kepulangannya ke Banten pada 1915, ia mendirikan pesantren di kampung halamannya di Citangkil, Cilegon. Beberapa tahun kemudian, pesantren ini bertransformasi menjadi madrasah Al-Khairiyah yang tidak hanya mengajarkan ilmu agama tapi juga pengetahuan umum. Madrasah ini kemudian menjadi pelopor pembaharu pendidikan Islam di daerah Banten dan masih tetap ada sampai sekarang.

Dari gerakan pesantren dan madrasah, KH Syam’un bertransformasi menjadi tokoh militer dan ikut andil dalam sejarah kemerdekaan Indonesia khususnya di Banten. Status sosialnya sebagai ulama di Banten menjadikan Syam’un diangkat menjadi komandan batalyon (daidancho) Peta bersama KH Achmad Chatib oleh Jepang.

Setelah Jepang kalah oleh pasukan sekutu, KH Syam’un kemudian diangkat menjadi ketua Badan Keamanan Rakyat (BKR) untuk Keresidenan Banten dan Serang pada 1945. Badan ini kemudian yang mengusir tentara Jepang di markas Kenpetai melalui baku tempak di kampung Benggala.

Pada Oktober 1945 begitu dibentuk Tentara Keamanan Rakyat (TKR), Komandemen 1/Jawa Barat membentuk Divisi 1 TKR dengan nama Divisi 1000/1 dengan panglima divisi KH Syam’un dengan pangkat kolonel.

Di bawah pimpinanya, Divisi 1 TKR menumpas Gerakan Dewan Rakyat yang menangkap tokoh-tokoh penting pemerintahan di Banten. Bahkan karena gerakan ini, ada desas-desus Banten akan melepaskan diri dari Indonesia. Hal ini kemudian mendorong Sukarno dan Hatta harus turun ke Banten dan meyakinkan rakyatnya.

Pada 1946, terjadi penggantian jabatan di Banten dan pilihnya jatuh ke KH Syam’un yang diangkat menjadi Bupati Serang. Naiknya ulama di lingkungan pemerintahan diharapkan menjaga kedaulatan RI dari ancaman termasuk tentara Belanda yang datang setelah Jepang kalah dari sekutu.

Saat Tentara Keamanan Rakyat mengalamai perubahan dan restrukturisasi menjadi Tentara Republik Indonesia (TRI) pada 1946, Komandemen 1/Jawa Barat berubah menjadi Divisi I/Siliwangi dan dipimpin oleh Panglima Jenderal Mayor AH Nasution.

Divisi ini kemudian membawahi lima brigade salah satunya Brigade I/Tirtayasa di Banten dengan komandan Kolonel KH Syamun. Dalam perkembangannya, karena merangkap menjadi bupati, ia kemudian diganti oleh Letnan Kolonnel Soekanda Bratamenggala.

Saat terjadi agresi militer Belanda pada 1948-1949, terjadi perang gerilya di berbagai daerah termasuk di Banten. KH Syam’un yang waktu itu Bupati Serang ikut bergerilya ke Gunung Cacaban di Anyer. Saat itu, terjadi peperangan sengit antara tentara dan pasukan agresi militer Belanda di sana.

Dua bulan kemudian, KH Syam’un meninggal saat bergerilnya di usia ke 66 karena penyakit yang dideritanya.

“Dalam perjuangan gerilyanya di hutan dan di gunung, ia rela meninggalkan jabatannya sebagai seorang bupati untuk bersusah payah di hutan dan sakit. Sampai akhir hayatnya ia tetap berusaha untuk membela negara dan menjaga kehormatan bangsa dari ancaman bangsa lain,” tulis buku tersebut.

Dari berbagai sumber.

Iffan Gondrong

 

Categories
Cilegon

Trusted News Site
No Comment

Leave a Reply

RELATED BY

%d blogger menyukai ini: