Isu Dinasti Tak Punya Dampak Elektoral

BERITAKARYA.CO.ID, JAKARTA - Serial Diskusi tentang Proyeksi Kemenangan Kandidat Pilkada di Banten bagian kedua yang digelar 'The Aksara Institute' kembali digelar pada Minggu (8/11/2020) di Kantor Indonesia Analisis Politik...
Narasumber
Dari kiri ke kanan: Ananda Prasetya,, Alex Aur Apelaby, Abdul Hakim, Musa Maliki.

Seperti diskusi sesi pertama, tuan rumah Ananda Prasetya dari Indonesia Analisis Politik Institute kembali mengundang tiga narasumber yakni Abdul Hakim MA, alumni The Australian National University Canberra, Alexander Aur Apelaby, kandidat doktor filsafat sosial, yang juga Dosen Etika Politik Universitas Pelita Harapan, dan Musa Maliki, PhD, alumni Politics and International Relations, Charles Darwin University.

Kali ini diskusi mengerucut pada tingkat elektabilitas para kandidat di Pilkada Banten khususnya Pilkada Cilegon.

Abdul Hakim MA yang lebih menyoroti Pilkada Cilegon mengungkapkan, sosok kandidat pasangan nomor 02 Ratu Ati Marliati -Sokhidin datang dari bawah.

Dengan lapisan pengalaman yang cukup panjang baik karir di dunia profesional birokrasi maupun kontribusi dalam kegiatan pengembangan masyarakat Cilegon, Ratu Ati cukup mendapat tempat di hati masyarakat.

“Ibu Ati meniti karir dari seorang guru, karir birokrasi, aktivitas pengembangan masyarakat dan pemberdayaan melalui dunia pendidikan hingga saat ini,” tuturnya.

Sosok ini (Ratu Ati, red) dilengkapi dengan tokoh seperti Sokhidin yang memulai karir di kepolisian negara Indonesia, aktif di dunia usaha, kepartaian, dan mengelola jaringan pengajian keagamaan bersama dengan para kyai yang dikenal jelas sanad dan silsilah keilmuan keagamaannya.

“Aktivitas keagamaan Pak Sokhidin itu mewakili semangat santri dan para kyai. Ini juga point penting bagi kandidat sehingga wajar jika elektabilitasnya tinggi,” kata Abdul Hakim.

Survei yang dilakukan oleh tim internal pemenangan pasangan Ati-Sokhidin, lanjutnya, menunjukkan bahwa tingkat keterpilihan pasangan ini karena alasan pengalaman dan keberpihakan pada rakyat.

“Kedua sosok kandidat ini mendapatkan dukungan atas dasar reputasi karir dan investasi sosial yang sudah lama disemai melalui kegiatan pemberdayaan masyarakat, dan itu ditangkap oleh warga sebagai figur yang mewakili agenda perubahan Cilegon di periode yang akan datang,” kata dia.

Legitimasi Pemimpin dari Rakyat

Andanda Prasetya yang menjadi moderator diskusi terbatas lalu bertanya kepada narasumber, apakah isu dinasti dan korupsi tidak berpengaruh pada tingkat elektabilitas?

Abdul Hakim kemudian menegaskan, pertanyaan itu sesungguhnya sudah terjawab dengan prediksi tingginya tingkat keterpilihan Ratu Ati-Sokhidin.

“Jika diverbalkan kira-kira begini. Isu itu (dinasti dan korupsi, red) secara nyata dipatahkan oleh tingkat elektabilitas yang tinggi itu. Artinya, isu itu nggak nendang. Tidak punya dampak elektoral,” tegasnya.

Alexander Aur Apelaby, Dosen Etika Politik Universitas Pelita Harapan menambahkan, pemilihan pemimpin publik, seperti pemilihan kepala daerah, kepala pemerintahan pusat, wakil rakyat di parlemen, sungguh absah bila mempunyai legitimsasi demokratis.

Legitimasi demokratis tidak semata-mata berarti warga negara secara bebas masuk dalam bilik pemungutan suara dan memilih calon pemimpin yang mempunyai kapasitas sebagai pemimpin publik, tetapi lebih dari itu adalah legitimasi demokratis juga terwujud dalam partisipasi warga negara bersama wakil rakyat dalam merancang undang-undang atau peraturan daerah.

“Hanya itu kuncinya. Legitimasi itu didasari oleh pilihan warga. Bukan yang lain,” pungkasnya.

Dikusi pun diakhiri dengan sebuah kesimpulan dari Ananda Prasetya bahwa Pilkada Cilegon menarik untuk diikuti karena turbulensi politiknya cukup tinggi.

Diskusi sesi kedua pun berakhir dan dilanjutkan diskusi sesi selanjutnya di lokasi yang belum ditentukan.

Iffan Gondrong

Categories
Politik

Trusted News Site
No Comment

Leave a Reply

LOWONGAN

RELATED BY

%d blogger menyukai ini: