Iman Ariyadi Undercover : Salat Dulu Baru Ngobrol

SUATU sore, penulis baru saja duduk di sofa yang ada di Kantor DPD Golkar. Tak lama berselang, Adzan Magrib berkumandang di salah satu stasiun televisi swasta nasional.

Seperti umumnya televisi nasional, usai adzan akan diselingi dengan untaian kalimat, baik itu berasal dari Hadist Nabi Muhammad SAW, atau dari nukilan ayat suci Al-quran.

Pak Tb Iman Ariyadi dengan suara yang cukup jelas kemudian membaca ayat-ayat atau hadist-hadist yang tertera di televisi itu. Kalau tidak salah saat itu ayat yang ditayangkan televisi berbunyi soal neraka jahannam dan ciri-ciri orang yang akan masuk neraka.

Saat itu, saya langsung membuka kaus kaki dan sepatu. Lalu dengan enteng Walikota Cilegon itu  berkata “Tumben buru-buru buka sepatu. Jangan hanya gara-gara saya mebacakan ayat tadi, Anda cepat-cepat buka sepatu,” kata dia seraya tertawa.

Sejurus kemudian Ketua DPD Golkar Cilegon itu Iman membuka kaus kaki dan sepatu. Tujuannya satu, berwudhu dan Salat Magrib. “Kita salat dulu, baru diskusi dilanjutkan,” ujarnya.

Begitulah memang. Walikota yang merupakan jebolan pesantren ini tidak main-main dengan urusan ibadah. Dia akan meninggalkan obrolan sepenting apapun jika waktu salat sudah tiba. Setidaknya dia pamit untuk melaksanakan salat terlebih dahulu.

Titel santri yang melekat padanya, sudah sangat umum dan diketahui oleh hampir seluruh warga Cilegon. Sejauh penglihatan saya, gelar itu bukan hanya omong-kosong. Tempaan di pesantren sepertinya begitu melekat dalam diri Iman Ariyadi.

Dari cerita yang pernah saya dengar, suatu hari Tb Iman Ariyadi mengikuti acara di suatu tempat di Cilegon. Acara yang diisi berbagai kegiatan itu hampir memasuki waktu Salat Ashar. Namun tidak ada tanda-tanda acara akan segera berakhir.

Karena acara resmi yang dilakukan oleh salah satu partai politik pendukung pencalonannya itu, Tb Iman Ariyadi terus saja duduk di posisinya, walaupun hatinya berkata “saya belum Salat Ashar”.

Acara selesai, Pak Iman buru-buru pergi dan kemudian melaksanakan Salat Ashar, di akhir waktu dan sudah menjelang magrib. “Pokonya saya harus salat, walaupun memang sudah lewat waktu. Dari pada tidak salat, lebih baik saya tetap salat. Urusannya itu hanya Allah SWT yang tahu,” katanya bercerita.

Sejauh penglihatan, bukan sekali dua kali saya menyaksikan Tb Iman Ariyadi pergi dan keluar dari obrolan karena waktu salat sudah masuk. Setelah selesai, dia kembali duduk dan obrolan dilanjutkan. Dia bahkan kerap melarang saya pergi sebelum saya juga melaksanakan salat. Pamali, begitu bahasa kiasan yang dia sampaikan ke saya.

Tulisan ini, saya sampaikan bukan untuk memuja-muja seorang Iman Ariyadi. Tetapi lebih kepada penegasan bahwa dia memang santri yang taat dan rajin beribadah. Urusan apakah salatnya diterima atau tidak, tentu itu bukan urusan saya, dan bukan urusan manusia. Hanya Allah SWT yang punya kuasa atas hal itu.

Lalu, mengapa saya kemudian membahas hal ini dalam tulisan saya? Sebab sudah lumrah, jika manusia kadang rajin melakukan apapun karena maksud tertentu. Melaksanakannya bukan atas dasar dorongan dari kesadaran dan kebutuhan, tetapi karena pamrih dan ingin dipuji.

Nah, saya tidak melihat niat itu dari sosok Tb Iman Ariyadi. Dia dan mungkin juga Anda para pembaca, mendirikan salat karena memang merasa bahwa itu adalah kewajiban dan kebutuhan.

Dan ada satu hal penting yang saya garis bawahi. Obrolan dan diskusi seperti apapun, Pak Iman pasti akan meninggalkannya jika waktu salat sudah tiba. Dia tidak peduli siapa yang berdiskusi dengannya, dan apa pun tema yang didiskusikan.

Kalau waktu salat sudah masuk, dia akan pergi untuk salat terlebih dahulu. Setelah itu, dia akan bergabung kembali dan meneruskan diskusi yang belum tuntas.

Dalam hal ini, saya salut dan acungi dua jempol sekaligus. Jelas sudah bahwa gelar santri yang melekat padanya, bukan predikat kosong tanpa arti. Dan berbahagialah jika kita punya pemimpin yang taat beribadah dan tak lepas darfi wudhu.

Penulis : Iffan Gondrong

Categories
Features

Trusted News Site
No Comment

Leave a Reply

LOWONGAN

RELATED BY

%d blogger menyukai ini: