Iman Ariyadi Undercover : Kesederhanaan Artifisial Tidak Penting

KESEDERHANAAN dengan penampilan ala kadarnya belakangan menjadi tren. Para menteri dan pejabat tinggi pun semacam latah dengan tren itu.

Ya, baju putih lengan panjang yang kerap dikenakan Presiden Jokowi saat tampil diberbagai kegiatan pun diikuti oleh berbagai kalangan. Sederhana, itulah gambaran yang ingin dicerminkan.

Obrolan penulis memang kali ini soal kesederhanaan seorang pemimpin. Dimana masyarakat siapapun itu, suka dengan pemimpin yang sederhana. Pemimpin yang tidak neko-neko, dan pemimpin yang merakyat.

Namun bagi Walikota Cilegon, Tb Iman Ariyadi, seorang pemimpin tidak perlu menonjolkan sisi kesederhanaan, terlebih kesederhanaan artifisial. Yang lebih penting dari sosok pemimpin adalah kebijakannya, bukan tampilan yang sengaja dibuat seolah-olah sederhana.

Sebab bagi rakyat, kesederhanaan itu akan menjadi tidak penting manakala kebijakan seorang pemimpin tidak berpihak kepada mereka. Karenanya, Ketua DPD Golkar Cilegon ini tidak sepakat dengan sikap latah kesederhanaan yang cenderung kamuflase itu.

Seorang pemimpin akan dilihat dari hasil kerjanya memakmurkan masyarakat yang dipimpin. Bukan dilihat dari kepribadian secara kasat mata. Bukan pada tampilan baju yang dikenakan, bukan pula pada persoalan individunya.

“Kalau ada pemimpin tampil perlente, gagah, dengan mobil yang mewah apa itu salah? Menurut saya tidak salah. Kalau dia memang punya ya nggak apa-apa. Asal tahu tempat dan mobil itu bukan dari hasil korupsi,” kata Iman dalam sebuah obrolan di DPD Golkar itu.

Dia menyontohkan sosok proklamator Bung Karno. Saat itu, masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan gaya pakaian Bung Karno yang lekat dengan dasinya. Rakyat tidak juga ambil pusing berapa istri Bung Karno. Tetapi yang dilihat adalah apa yang dilakukan Bung Karno memerjuangkan rakyat dan bangsa ini.

“Kalau saat itu Bung Karno dipermasalahkan hanya karena masalah pribadinya yang punya istri banyak, beliau tidak akan memimpin negeri ini sekian lama. Dan menurut saya, salah kalau kita melihat pemimpin itu dari sisi pribadinya, bukan dari cara dia memimpin,” kata dia.

Karenanya, Pak Iman juga tidak mau meniru apa yang dicerminkan oleh para petinggi negeri saat ini. Dia tidak mau latah dengan kesederhanaan artifisial itu. Yang lebih penting baginya adalah bagaimana berbuat untuk masyarakat, membangun daerah, memakmurkan rakyat dan mengedepankan kemaslahatan masyarakat banyak.

“Kalau misalnya saya pakai mobil Rubicon, apa itu lantas dibilang saya tidak pro rakyat, tidak sederhana? Ah tidak juga. Toh mobil itu yang saya punya,” tandasnya.

Obrolan makin seru karena di ruang DPD Golkar saat itu berdatangan beberapa kawan lain seperti Kang Epi Saefullah, Kang Agus, Kang Haji Nasir.

Tak terasa, senja sudah menunjukkan waktu untuk Salat Magrib. Tb Iman Ariyadi yang merupakan Ketua DPD Golkar Cilegon itupun beranjak untuk mengambil air wudhu. Dia kemudian Salat Magrib di pojok ruangan sebelah kanan.

Penulis dan kawan yang lain pun kemudian salat secara bergantian, karena sajadahnya memang hanya ada satu.

Penulis : Iffan Gondrong

Categories
Features

Trusted News Site
No Comment

Leave a Reply

LOWONGAN

RELATED BY

%d blogger menyukai ini: