Imam Hanafi dari Seorang Pedagang Hingga Jadi Ulama Besar

BERITAKARYA.CO.ID - Sahabat muslim yang dirahmati Allah SWT, Redaksi beritakarya.co.id akan mengupas tentang imam empat madzhab dalam edisi khusus....
Ilustrasi
Ilustrasi/Foto Repro islam.nu.or.id/NET

Catatan yang diambil dari berbagai sumber, diharapkan menambah wawasan keislaman sahabat semuanya.

Profil pertama yang akan dikupas adalah Imam Hanafi atau Abu Hanifah RA.

Dikutip dari laman islam.nu.or.id berdasarkan catatan Alhafiz Kurniawan, Imam Abu Hanifah adalah pendiri Mazhab Hanafi yang sangat berpengaruh dalam kajian Fiqih Islam hingga hari ini.

Pengikutnya banyak tersebar di pelbagai belahan dunia, terutama di Afghanistan. Keilmuannya yang begitu dalam menempatkannya ke dalam maqam mujtahid.

Mufti Mesir, Syekh Ali Jumah, memasukkan nama Imam Abu Hanifah ke dalam jajaran nama mufti di Kota Kufah.

Sumber: https://islam.nu.or.id/post/read/121781/kisah-kesalehan-imam-abu-hanifah

Dikutip dari islami.co berdasarkan catatan Hengki Ferdiansyah, Lc. MA, Abu Hanifah (80-150 H) lahir dari keluarga pedagang. Ayahnya bernama Tsabit, pedagang sutra yang masuk Islam masa pemerintahan Khulafaur Rasyidin.

Kakek Abu Hanifah, Zuthi, adalah tawanan pasukan muslim saat menaklukan Irak. Setelah dibebaskan, Zuthi mendapatkan hidayah dan masuk Islam.

Semasa hidupnya, Zuthi menjalin hubungan baik dengan Ali bin Abu Thalib, sahabat Nabi yang menetap di Kufah. Hubungan baik ini kemudian diteruskan oleh anaknya, Tsabit.

Bahkan dikisahkan, Ali bin Abu Thalib mendoakan keturunan Tsabit agar selalu diberkahi Allah SWT.

Tidak lama kemudian, Abu Hanifah lahir. Dia tumbuh seperti halnya anak kecil pada umumnya. Sejak kecil dia sudah hafal al-Qur’an dan menghabiskan waktunya untuk terus-menerus mengulangi hafalan agar tidak lupa.

Pada bulan Ramadan, Abu Hanifah bisa mengkhatamkan al-Qur’an berkali-kali berkat hafalannya.

Abu Hanifah awalnya tidak terlalu serius belajar agama. Belajar agama hanyalah sambilan, bukan tujuan utama. Sebagian besar waktunya dihabiskan untuk berdagang di pasar. Maklum, beliau memang keturunan pedagang.

Berguru ke Hammad bin Abu Sulaiman

Keseriusannya belajar agama timbul setelah bertemu Al-Sya’bi, seorang ulama besar saat itu.

Al-Sya’bi menyarankan agar Abu Hanifah memperdalam ilmu agama dan mengikuti halaqah (pengajian) para ulama.

“Kamu wajib memperdalam ilmu dan mengikuti halaqah para ulama. Karena kamu cerdas dan memiliki potensi yang sangat tinggi,” tutur Al-Sya’bi.

Nasihat ini sangat berbekas dalam hati Abu Hanifah. Dia menunjuk orang lain untuk mengurusi dagangannya. Sesekali dia mengontrol dan memastikan usahanya lancar.

Sebagian besar hidupnya dihabiskan untuk belajar dan menghadiri halaqah ulama. Salah satu halaqah yang sering dihadiri Abu Hanifah adalah halaqah Hammad bin Abu Sulaiman.

Beliau adalah guru yang sangat berpengaruh dalam kehidupan Abu Hanifah. Dia belajar selama 18 tahun kepada Hammad. Andaikan beliau tidak wafat tahun 120 H, tentu Abu Hanifah masih terus belajar kepadanya.

Setelah Hammad meninggal, Abu Hanifah diminta mengisi halaqah keagamaan di Kufah.

Pergulatan Intelektual Abu Hanifah

Sebelum Islam datang, di Irak tradisi keilmuan sudah berkembang dan peradabannya sudah mapan. Ada banyak sekolah dan tempat diskusi. Filsafat termasuk salah satu disiplin keilmuan yang cukup diminati kala itu.

Maraknya kajian filsafat ini berdampak terhadap berkembangnya kajian ilmu kalam (teologis) dalam Islam. Para intelektual muslim saat itu lebih banyak memperdalam ilmu kalam, logika, dan debat (jidal). 

Ketiga ilmu ini harus dikuasai untuk merespons pertanyaan dan permasalahan teologis yang dilontarkan oleh para filsuf.

Abu Hanifah pada mulanya memperdalam ilmu kalam. Beliau turut serta meramaikan perdebatan teologis pada waktu itu.

Kitab Fiqhul Akbar menjadi bukti kepiawaian Abu Hanifah dalam ilmu kalam. Hingga akhirnya, dia menyadari bahwa ilmu ini tidak ada manfaatnya dan tidak berdampak terhadap generasi berikutnya.

Dalam pandangan beliau, ilmu fikih adalah ilmu yang paling bermanfaat dan sangat berguna bagi masyarakat. Sejak itu, Abu Hanifah mulai memperdalam ilmu fikih dan belajar langsung kepada ulama yang ahli di bidang fikih di Irak.

Categories
Khazanah

Trusted News Site
No Comment

Leave a Reply

LOWONGAN

RELATED BY

%d blogger menyukai ini: